Selamat Datang

Tuesday, 1 May 2012

Barrichello Dukung Massa Bertahan

Selasa, 1 Mei 2012 19:11 wib
Felipe Massa mencatat awal yang sangat buruk pada musim ini/Getty Images
Felipe Massa mencatat awal yang sangat buruk pada musim ini/Getty Images
RIO DE JANEIRO – Rubens Barrichello sadar masa depan Felipe Massa di Ferrari tengah di ujung tanduk. Sebagai teman baik, Barrichello tentunya berharap Massa dipertahankan tim Kuda Jingkrak.

Menariknya, akhir pekan kemarin, Massa muncul dalam event Indy Car Sao Paulo. Kemunculannya ini mengapungkan spekulasi bahwa Massa akan pindah balapan.

Apalagi, Barrichello yang notabene merupakan teman dekat Massa sudah lebih dulu hijrah ke ajang Indy Car di Amerika Serikat. Posisi Massa di Ferrari memang kritis karena hanya meraih dua poin dari empat seri perdana—berselisih 41 poin dari rekan setimnya Fernando Alonso.

Namun, Barrichello yang pernah membalap bagi Ferrari pada 2000-2005 yakin Massa bakal bertahan. Kemunculan Massa di Indy Car Sao Paulo hanyalah kunjungan sosial belaka.

“Dia datang ke sini karena saya mengundangnya. Sebuah kehormatan menerimanya di sini,” kata Barrichello seperti dikutip dari Autosport, Selasa (1/5/2012).

“Dia tidak berada di sini untuk mencari pekerjaan. Orang ini akan membalap di F1 lebih banyak lagi,” tegas Barrichello.

“Ketika menghadapi masalah, kamu harus tersenyum dan merasa nyaman dengan diri kamu sendiri. Yang terpenting adalah apa yang ada dalam dirinya, di mana dia terlihat santai,” urai pria asal Brasil yang kini berumur 39 tahun ini.

Button Bingung ???

Selasa, 1 Mei 2012 18:07 wib
Jenson Button tak habis pikir dengan performa McLaren yang tiba-tiba anjlok/Getty Images
Jenson Button tak habis pikir dengan performa McLaren yang tiba-tiba anjlok/Getty Images
WOKING – Jenson Button tengah bingung. Bagaimana tidak, usai finis kedua di GP China, pembalap McLaren Mercedes ini malah gagal finis di seri berikutnya pada GP Bahrain.

Juara dunia 2009 ini tadinya bakal finis kelima di Sirkuit Sakhir tapi di lap terakhir, mobil MP4-27 miliknya mengalami problem sehingga memaksanya gagal menyelesaikan lomba.

Rekan setimnya Lewis Hamilton juga mengalami problem pit stop. Beruntung, Hamilton masih bisa finis kedelapan dan meraih empat poin di Bahrain.

Problem demi problem yang dialami duo McLaren di Sakhir itu akhirnya membuat Sebastian Vettel mengkudeta keduanya dari puncak klasemen pembalap.

“Andai bisa finis, maka lomba kemarin pasti akan lebih positif. Jika tak ada problem di akhir balapan, maka saya akan memimpin klasemen,” kata Button seperti dilansir Planet F1, Selasa (1/5/2012).

“Tapi, sekalipun saya bisa finis, tetap saja ada negatifnya yaitu kami tidak cukup cepat. Padahal, kecepatan kami biasanya sangat bagus, tapi sayangnya kali ini tidak,” tambah Button.

“Pit stop juga tidak spesial dan keausan ban juga lebih tinggi dari biasanya. Jadi secara keseluruhan ini hari yang berat,” tegas pembalap berusia 30 tahun.

Button tidak ikut tes tengah musim selama tiga hari yang berlangsung mulai hari ini di Sirkuit Mugello. Seri berikutnya akan berlangsung di Sirkuit Catalunya pada GP Spanyol, 13 Mei mendatang.
 

"Pirelli Harusnya Dipuji Bukan Disalahkan"

MILAN – Formula 1 tidak pernah seketat ini di mana empat pembalap dari tim yang berbeda-beda memenangi empat seri perdana. Kredit pantas diberikan kepada ban Pirelli.

Terakhir kali empat pembalap dari tim berbeda memenangi empat seri perdana adalah pada 1983 silam. Artinya, sudah 29 tahun peristiwa semacam ini tidak pernah terjadi.

Jenson Button (McLaren), Fernando Alonso (Ferrari), Nico Rosberg (Mercedes), Sebastian Vettel (Red Bull) secara berturut-turut mampu menjadi kampiun di GP Australia, GP Malaysia, GP China, dan GP Bahrain.

Dalam pandangan Vitantonio Liuzzi, fenomena semacam ini terjadi karena para pembalap tersebut mampu mengatur penggunaan ban sesuai karakter sirkuit.

Pembalap Italia yang kini berkiprah di ajang Supersport tersebut tidak sependapat dengan juara dunia tujuh kali Michael Schumacher yang menyalahkan Pirelli atas sulitnya mengontrol performa ban. Pirelli harusnya dipuji bukan disalahkan

“Selalu menantang baik bagi pembalap maupun mekanik untuk mensetting mobil secara maksimal dan mengeluarkan yang terbaik darinya,” kata Liuzzi seperti dikutip dari Crash, Selasa (1/5/2012).

“Ban tidak bermasalah. Dia tidak melepuh. Namun, ini memang situasi yang sulit. Kita harus memberi jempol kepada Pirelli untuk proyek yang mereka kerjakan,” tegas Liuzzi.

Stoner Bertekad Sambung Kemenangan di Estoril

Rabu, 2 Mei 2012 01:48 wib

Setelah menang di Jerez, Casey Stoner ingin kembali ke podium utama di Estoril (Foto: Daylife)

Setelah menang di Jerez, Casey Stoner ingin kembali ke podium utama di Estoril (Foto: Daylife)

AALST – Setelah beberapa seri pembuka gagal mendapuk puncak podium, Casey Stoner akhirnya membuka kemenangan pertamanya di GP Spanyol, pekan lalu. Kini, jelang GP Portugal di Estoril, sang juara bertahan berniat kembali meraih hasil serupa.

 

Persaingan di klasemen MotoGP kini kian ketat. Stoner semakin merapatkan posisi dengan rider Yamaha – Jorge Lorenzo yang masih bercokol di puncak. Saat ini, bentangan poin Stoner hanya berjarak empat poin berkat tambahan 25 angka di Jerez lalu.

 

“Kembali melalui perjalanan udara ke base camp (Repsol Honda), kami akan mempersiapkan diri jelang GP Portugal, akhir pekan ini. Setelah menang di Jerez, saya sudah tak sabar menuju Estoril dan berharap bisa mempertahankan performa di dua seri terakhir, terutama di Jerez,” tutur Stoner.

 

Meski di kelas MotoGP Stoner belum pernah sekalipun menjadi yang tercepat di sesi lomba, tapi kenangan di kelas 250cc bisa menjadi suntikan motivasi tersendiri bagi pembalap berjuluk The Kurri Kurri Boy itu.

 

“Saya punya beberapa catatan yang lumayan di Estoril. Saya memenangkan podium pertama saya di kelas 250cc di Estoril. Jadi, saya akan menargetkan hasil serupa, tapi saya juga mengharapkan cuaca yang baik, akhir pekan ini,” lanjutnya, seperti disadur Stay on the Black, Rabu (2/5/2012).

 

Dengan jangka waktu yang cukup singkat menyongsong GP Portugal, Stoner akan bekerja keras dengan timnya, untuk memperbaiki problem di area arm-pump, yang sempat menjadi masalah di Jerez.

 

“Akan tetapi, kami harus segera memperbaiki masalah arm-pump di motor saya. Memang saat di Jerez, kami bisa sedikit mengurangi efek masalahnya, tapi kami belum sempat memperbaikinya secara keseluruhan,” tuntasnya.

 


Lorenzo: Ban Jadi Kunci di Estoril

Rabu, 2 Mei 2012 04:16 wib

Jorge Lorenzo. (Foto: Getty Images)

Jorge Lorenzo. (Foto: Getty Images)

GERNO DI LESMO – Pekan ini, MotoGP akan kembali berlangsung di Sirkuit Estoril. Jorge Lorenzo menilai ban akan menjadi kunci keberhasilannya dalam meraih kemenangan di Portugal.

Lorenzo datang di Sirkuit Estoril dengan percaya diri yang tinggi. Pembalap Yamaha Racing itu menjadi pemuncak klasemen pembalap, setelah meraih kemenangan di Qatar dan finis di posisi kedua dalam balapan di Jerez, pekan lalu.

Estoril adalah salah satu lintasan kesukaan Lorenzo. Tercatat, juara dunia MotoGP 2010 itu pernah empat kali pole position, tiga kali meraih kemenangan, dan satu kali finis di peringkat kedua.

Dengan hasil positif ini, membuat Lorenzo berambisi mempertahankan posisi puncaknya. Saat ini, pembalap kelahiran Mallorca itu memimpin empat poin dari peringkat kedua dan juara bertahan Casey Stoner.

“Sekarang kita akan balapan di Estoril, sebuah lintasan yang mana saya meraih hasil bagus di sini. Saya banyak meraih kemenangan di sini dan menikmati balapan di sini. Saya rasa kami bisa balapan dengan tangguh dan pemilihan ban tepat sangat penting di sini,” kata Lorenzo.

“Kami sedang memimpin klasemen. Tapi, terpenting adalah kompetisi sangat ketat, jadi kami harus memberikan terbaik dan tetap di depan. Kami juga akan melakukan tes Senin, yang mana akan sangat penting untuk membuat motor M1 semakin membaik,” tandasnya dilaporkan StayOntheBlack, Rabu (2/5/2012).

McWilliams: MotoGP Impian Setiap Pembalap

Selasa, 1 Mei 2012 20:12 wib

Cal Crutchlow menjadi role model bagi para setiap pembalap World Superbike yang ingin ke MotoGP/Getty Imagesa

Cal Crutchlow menjadi role model bagi para setiap pembalap World Superbike yang ingin ke MotoGP/Getty Images

 LONDON – Menjadi pembalap MotoGP merupakan impian setiap pembalap profesional. Sebagai bekas pembalap MotoGP, Jeremy McWilliams paham benar soal hal ini.

Anda masih ingat dengan Jeremy McWilliams? Bekas pembalap MotoGP asal Irlandia Utara yang kerap berada di posisi bawah pada era 500cc (1993-1996)  ini sekarang mendirikan sekolah balap dan terlibat dalam pengembangan ban plus motor pabrikan.

McWilliams tahu benar gairah para pembalap dari ajang World Superbike atau Supersport untuk berkiprah di arena paling premier dunia balap motor.

Namun, pria yang kini berusia 48 tahun ini juga mengingatkan bahwa kegagalan di MotoGP bisa membawa konsekuensi terburuk pada karier seorang pembalap: tak dilirk lagi oleh tim manapun.

“MotoGP bisa membuatmu jadi bintang atau menjadikanmu pecundang,” kata McWilliams seperti dikutip dari Crash, Selasa (1/5/2012).

“Entah itu kamu memasuki arena MotoGP untuk satu atau dua tahun dan berlomba tanpa akan pernah direkrut lagi oleh tim lain, atau pergunakan kesempatanmu, berbuat yang terbaik seperti yang dilakukan oleh Crutchlow,” jelas McWilliams.

“Memang ini resiko yang besar karena membalap di ajang ini bisa mengakhiri karier kamu jika kamu tidak sukses, tapi setiap pembalap memang mengimpikan untuk menjadi pembalap MotoGP,” tandas McWilliams.

puisi cinta part III

Cinta yang Tak Pasti
mungkin aku terlalu bodoh untuk mengerti
mungkin aku tak sengaja jg menyakiti
andai aku tau isi hatimu
andai kesempatan itu datang lagi padaku

sekarang mustahil bagiku
bahkan menyentuh bayangmu, aku tak mampu
sekarang aku terpuruk dalam jurang sesalku
dan cinta ni jadi sesak dalam dadaku
aku tau cinta ini sudah tak laku

tapi biarkan cinta ini aku miliki
biarkan cinta ni menjadi bebanku
aku tak peduli
meski menghambat jalanku
aku tau mencintaimu adalah tak pasti